Langsung ke konten
Manufaktur ยท Operasional

Pelatihan Plant Manager & Supervisor Produksi yang Membangun Disiplin OEE, TPM, dan Budaya Keselamatan

Plant manager dan supervisor produksi Indonesia memikul tiga akuntabilitas yang saling tarik: output produksi, biaya, dan keselamatan. Program Neksus membangun disiplin OEE harian, TPM gaya JIPM, 5S sebagai dasar, problem solving DMAIC, dan kepatuhan SMK3 + ISO 45001, sehingga pabrik berproduksi terprediksi, hemat, dan aman.

Target peserta
Plant Manager ยท Supervisor Produksi ยท Shift Leader ยท Maintenance LeadTarget peserta
Durasi tipikal
10โ€“14 minggu cohort + on-shift coachingDurasi tipikal
Fokus inti
OEE ยท TPM ยท 5S ยท SMED ยท Lean Six Sigma ยท SMK3 / ISO 45001Fokus inti
Format
Hybrid: workshop + gemba walk + on-shift coachingFormat
Jawaban singkat

Program plant manager Neksus membangun enam pilar operasional pabrik: OEE (Availability ร— Performance ร— Quality), Total Productive Maintenance gaya JIPM, 5S sebagai fondasi visual, SMED untuk reduksi setup time, problem solving Lean Six Sigma DMAIC, dan kepatuhan PP 50/2012 SMK3 + ISO 45001:2018. Cohort 10โ€“14 minggu dengan gemba walk mingguan dan on-shift coaching.

Konteks Peran

Mengapa plant manager adalah peran dengan tarikan tiga arah yang paling kompleks di korporasi

Plant manager dan supervisor produksi memikul akuntabilitas tiga arah: output produksi (volume, kualitas, on-time delivery), biaya (material, energi, OT, scrap), dan keselamatan (zero LTI / lost time injury). Setiap keputusan operasional menarik tiga arah ini secara berbeda. OEE (Overall Equipment Effectiveness, dipopulerkan Seiichi Nakajima JIPM 1988) memberi satu metrik komposit Availability ร— Performance ร— Quality yang menjadi bahasa universal produktivitas pabrik. Total Productive Maintenance (TPM, JIPM) menggeser maintenance dari reaktif ke prediktif dengan delapan pilar (autonomous, planned, focused improvement, dll). 5S (Seiri-Seiton-Seiso-Seiketsu-Shitsuke) adalah fondasi visual yang mendahului semua. SMED (Single-Minute Exchange of Die, Shigeo Shingo) memotong setup time menjadi <10 menit. Lean Six Sigma DMAIC (Define-Measure-Analyze-Improve-Control) memberi disiplin problem solving terstruktur. Di sisi regulasi, Indonesia mengamanatkan PP 50/2012 SMK3, Permenaker 5/2018 (Keselamatan Kerja Lingkungan), dan banyak perusahaan menambahkan ISO 45001:2018 (Occupational Health & Safety Management System). Program Neksus merangkai semua kerangka ini sebagai operating system harian plant manager.

  • OEE rata-rata pabrik manufaktur dunia 60% (JIPM benchmark), World Class 85%
  • TPM JIPM Award berhasil menaikkan OEE 20โ€“40 poin di pabrik yang menerapkannya penuh
  • Setup time reduction SMED dapat memangkas changeover dari 4 jam ke <10 menit
  • PP 50/2012 SMK3 wajib untuk perusahaan โ‰ฅ100 karyawan atau berisiko tinggi
Kompromi keselamatan demi target produksi = mortgaging masa depan

Plant manager yang menekan supervisor untuk mengejar target produksi dengan mengabaikan briefing SMK3, JSA (Job Safety Analysis), atau LOTO (Lockout-Tagout) akan menang dua-tiga kuartal. Setelah itu satu LTI atau fatality menutup pabrik berhari-hari, audit Permenaker mengakibatkan denda + STOP operasi, dan kepercayaan tim hancur. Biaya satu fatality di Indonesia rata-rata Rp 5โ€“15 miliar (santunan + denda + business interruption + reputasi).

Kerangka acuan program

Modul Neksus mengintegrasikan OEE + TPM (JIPM Award), 5S + Visual Management, SMED (Shingo), Lean Six Sigma DMAIC (ASQ), Kaizen (Imai), plus kepatuhan PP 50/2012 SMK3, Permenaker 5/2018, ISO 45001:2018. Diadaptasi ke konteks Indonesia: dinamika 3-shift dengan kerja malam, multi-generasi operator, dan pengawasan Dinas Tenaga Kerja regional.

Perubahan lantai produksi berakar di gemba walk harian, bukan ruang rapat

Plant manager yang menghabiskan 6 jam/hari di kantor membaca laporan akan kalah dengan plant manager yang menghabiskan 4 jam di shop floor (gemba walk). Program Neksus menanamkan gemba walk pagi dan sore dengan checklist 5S + OEE board + safety observation card sebagai disiplin harian, bukan acara.

Hasil tipikal: OEE naik 8โ€“15 poin dalam 6 bulan

Pola lintas-klien Neksus untuk pabrik yang menjalankan disiplin OEE harian + autonomous maintenance + DMAIC project bergulir: OEE naik 8โ€“15 poin, setup time turun 30โ€“50% (SMED), LTI / lost time injury turun ke zero atau โ‰ค1 per tahun, dan ide kaizen dari operator naik 3โ€“5x.

Profil TNA

Profil TNA yang paling sering kami temukan pada plant manager + supervisor produksi

Hasil diagnostik di klien manufaktur Neksus, pola konsisten lintas industri FMCG, otomotif, kimia, dan logam.

Gap
OEE diukur tetapi tidak digunakan untuk keputusan harian

Gejala: OEE dilaporkan bulanan ke direksi; angka stabil 50โ€“60%; root cause downtime tidak dianalisis per shift; OEE board tidak ada di lini atau ada tetapi tidak terisi.

Dampak bisnis: Improvement tidak terarah; investasi mesin baru dilakukan ketika OEE mesin existing masih bisa naik 15 poin dengan disiplin operasi.

Gap
Maintenance masih reaktif (run-to-failure)

Gejala: Mesin diperbaiki saat sudah breakdown; planned maintenance window tidak dihormati; autonomous maintenance (cleaning, inspection harian oleh operator) tidak ada.

Dampak bisnis: MTBF (Mean Time Between Failures) pendek; biaya spare part tinggi; downtime tidak terprediksi mengganggu komitmen pengiriman.

Gap
5S menjadi event tahunan, bukan disiplin harian

Gejala: 5S audit dilakukan 1โ€“2 kali per tahun dengan persiapan dramatis; standar (Seiketsu) tidak terdokumentasi; Shitsuke (self-discipline) tidak terbentuk; kondisi setelah audit cepat memburuk.

Dampak bisnis: Fondasi visual management hilang; defect karena part hilang / terkontaminasi naik; safety risk dari lantai berantakan tinggi.

Gap
Setup time / changeover panjang dan bervariasi

Gejala: Changeover SKU memakan 2โ€“4 jam; tidak ada SOP setup tertulis; variasi setup time antar-tim ยฑ40%; SMED tidak dikenal.

Dampak bisnis: Lot size besar (untuk amortisasi setup) โ†’ inventory tinggi โ†’ kelincahan respons pasar rendah.

Gap
Problem solving 'paku-dan-palu', tanpa DMAIC / 8D

Gejala: Masalah berulang ditangani dengan workaround temporer; root cause analysis (5-Why, fishbone) jarang dilakukan secara struktural; tidak ada Control phase setelah perbaikan.

Dampak bisnis: Masalah berulang setiap bulan; tim merasa 'sudah dikerjakan' tetapi tidak ada countermeasure berkelanjutan.

Gap
Keselamatan dilihat sebagai compliance, bukan kompetensi

Gejala: Safety briefing pre-shift formalitas; JSA tidak dibuat per task baru; near-miss tidak dilaporkan karena takut hukuman; SMK3 dokumen ada tetapi audit Permenaker selalu menemukan gap.

Dampak bisnis: Frequency Rate (kecelakaan per juta jam kerja) tinggi; satu LTI dapat menghentikan operasi dan memanggil pengawas Disnaker.

Pain Point Harian

Pain point yang dirasakan plant manager + supervisor di lapangan

Target produksi harian ditarik direksi tanpa diskusi tentang availability mesin

Akar: Komunikasi vertical produksi ke direksi tidak menggunakan bahasa OEE; direksi melihat output, plant manager melihat constraint mesin; tidak ada diskusi joint.

Respons program: Modul 'OEE Communication for Executives', plant manager melatih executive briefing dengan OEE waterfall (planned production time โ†’ run time โ†’ ideal output โ†’ actual output) sehingga gap target โ†” realita transparan.

Operator senior menolak autonomous maintenance: 'itu kerja maintenance'

Akar: Budaya silo operator vs maintenance; tidak ada training cleaning-inspection-lubrication untuk operator; tidak ada penghargaan untuk operator yang menemukan defect awal.

Respons program: Workshop 'TPM Autonomous Maintenance Introduction' dengan visit pabrik benchmark (yang sudah menerapkan), reward system untuk early defect detection, dan SOP cleaning-as-inspection.

Shift malam menjadi 'shift hantu', produktivitas rendah, supervisor sulit dikontrol

Akar: Shift leader malam tidak terlatih sebagai pemimpin; tidak ada visual board OEE real-time; kontrol kualitas malam lebih longgar.

Respons program: Modul 'Night Shift Leadership' khusus untuk shift leader malam: disiplin pre-shift briefing, kontrol kualitas mandiri, ergonomi & fatigue management.

Changeover produk SKU baru memakan 3 jam dan inconsistent

Akar: Tidak ada SOP setup tertulis; tools tidak terorganisir (5S lemah); internal setup (saat mesin off) belum dipisahkan dari external setup (saat mesin masih jalan).

Respons program: Workshop SMED dengan video analysis changeover existing, identifikasi internal vs external setup, dan target reduksi bertahap (4 jam โ†’ 2 jam โ†’ 45 menit โ†’ <10 menit).

Defect yang sama berulang setiap bulan walau sudah 'diperbaiki'

Akar: Quick fix (containment) dijalankan tetapi root cause analysis tidak; tidak ada Control phase DMAIC; tidak ada poka-yoke (mistake-proofing).

Respons program: Modul 'DMAIC Problem Solving' dengan project Lean Six Sigma Green Belt sebagai capstone, setiap peserta menyelesaikan satu DMAIC project di problem nyata pabrik.

Audit SMK3 Disnaker selalu menemukan gap walau dokumen lengkap

Akar: Implementasi PP 50/2012 dilakukan sebagai dokumen, bukan praktik; JSA tidak dipakai harian; HIRADC (Hazard Identification, Risk Assessment, Determining Control) tidak terupdate; behavior-based safety tidak ada.

Respons program: Workshop 'SMK3 in Practice' dengan audit gap analysis terhadap PP 50/2012 + ISO 45001:2018 (parallel) dan implementasi behavior-based safety (BBS) dengan safety observation card.

Tangga Kapabilitas

Tangga kapabilitas plant manager + supervisor produksi, 12 bulan

Empat tahap dengan kompetensi inti dan sinyal KPI yang menandakan tahap berikutnya siap.

1
Bulan 1โ€“3: Fondasi 5S + OEE harian
12 minggu
  • Mengimplementasi 5S sebagai disiplin harian (bukan event)
  • Memasang OEE board di setiap lini dengan update per-shift
  • Memimpin gemba walk pagi (briefing) dan sore (review) harian
  • Mengidentifikasi 6 big losses (breakdown, setup, idling, reduced speed, defect, startup loss)
5S audit score โ‰ฅ80% konsisten 3 bulan; OEE board terisi 100% shift; minimum 6 root cause downtime teridentifikasi per minggu
2
Bulan 4โ€“6: TPM autonomous + SMED
12 minggu
  • Menerapkan autonomous maintenance 4 langkah pertama (initial cleaning, eliminating sources, cleaning standards, general inspection)
  • Memotong setup time dengan SMED bertahap
  • Memimpin focused improvement team untuk lini bottleneck
  • Mengoptimasi planned maintenance window dengan MTBF / MTTR data
Autonomous maintenance steps 1โ€“4 selesai di minimum 2 lini; setup time turun โ‰ฅ40%; MTBF naik โ‰ฅ20%; OEE naik 5โ€“10 poin
3
Bulan 7โ€“9: Lean Six Sigma DMAIC + keselamatan
12 minggu
  • Menyelesaikan satu DMAIC project per peserta (Green Belt level)
  • Mengimplementasi behavior-based safety dengan safety observation card harian
  • Menyusun JSA terupdate untuk semua task berisiko
  • Mengelola audit readiness PP 50/2012 SMK3 + ISO 45001:2018
DMAIC project per peserta dengan financial benefit terukur; LTI Frequency Rate turun ke โ‰ค1; audit gap terhadap PP 50/2012 <10 item
4
Bulan 10โ€“12: Plant leadership + culture
12 minggu
  • Memimpin daily management system terintegrasi (OEE + safety + quality + cost board)
  • Membangun Kaizen ide system dengan partisipasi operator โ‰ฅ80%
  • Mengembangkan satu supervisor jadi assistant plant manager
  • Membaca financial impact OEE improvement ke P&L pabrik
Daily management board operasional di semua lini; โ‰ฅ3 ide kaizen per operator per tahun; one assistant plant manager siap promosi
KPI yang Diukur

KPI operasional yang seharusnya bergerak saat program berjalan

Pilih 5โ€“7 KPI sebelum program mulai; dampak terukur dengan baseline yang jujur.

Overall Equipment Effectiveness (OEE)
Naik 8โ€“15 poin dalam 6 bulan

Metrik komposit produktivitas pabrik (JIPM standard); World Class 85%+.

Setup time reduction (SMED)
Turun 30โ€“50% di lini fokus

Menambah availability + memungkinkan smaller batch size + responsivitas pasar.

MTBF (Mean Time Between Failures)
Naik โ‰ฅ20%

Indikator efektivitas autonomous + planned maintenance.

LTI Frequency Rate (per juta jam kerja)
Turun ke โ‰ค1 (target world-class)

KPI keselamatan utama; <1 = setara dengan benchmark global operasional safety culture.

Audit gap PP 50/2012 SMK3
<10 item gap (siap audit eksternal)

Compliance regulasi nasional; gap >50 item = risiko peringatan Disnaker.

Defect rate / FPY (First Pass Yield)
Naik 5โ€“10 poin

Indikator kualitas produksi; berdampak langsung ke biaya scrap + rework.

Kaizen ide per operator per tahun
โ‰ฅ3 ide implementable

Sinyal kultur continuous improvement; world-class JIPM โ‰ฅ10.

Alat Bantu Keputusan

Workshop OEE 3 hari vs Cohort 10โ€“14 minggu vs Embedded consultant lean

Tiga bentuk intervensi operasional manufaktur. Cohort + on-shift coaching adalah default untuk transformasi disiplin pabrik.

KriteriaWorkshop 3 hariCohort 10โ€“14 minggu
โ˜…
Embedded consultant
Investasi per pesertaRp 5โ€“10 jutaRp 20โ€“35 jutaRp 80โ€“150 juta
Implementasi di lini produksi aktualTidak, case genericYa, DMAIC project di problem nyataYa, pendampingan harian
On-shift coachingTidakYa, gemba walk mingguanYa, harian
DMAIC project capstone (Green Belt)TidakYa, satu project per pesertaYa, multiple project
Cocok untukAwareness OEE / TPM, refresh manajemenDefault transformasi tim produksiPabrik besar dengan multi-line, target TPM Award
Alur Kerja Sama

Alur kerja sama 10โ€“14 minggu, dari diagnostik ke DMAIC capstone

  1. 1

    Diagnostik OEE + audit 5S + gap analysis SMK3

    Minggu 0โ€“1

    Audit operasional 5 hari onsite oleh tim Neksus + plant manager. Pengukuran OEE per lini, audit 5S, gap analysis terhadap PP 50/2012 + ISO 45001:2018. Output: baseline KPI, peta 6 big losses, dan tiga prioritas perbaikan.

  2. 2

    Kickoff workshop 3 hari onsite

    Minggu 2

    Hari 1: konsep OEE + TPM 8 pilar JIPM + benchmarking. Hari 2: 5S + visual management + gemba walk discipline. Hari 3: SMED introduction + DMAIC framework + pemilihan capstone project per peserta.

  3. 3

    Gemba walk mingguan dengan coach Neksus

    Minggu 3โ€“13

    Setiap Senin & Kamis (alternate shift), coach Neksus join gemba walk plant manager + supervisor. Inspeksi 5S, OEE board update, safety observation. Coaching real-time di lapangan.

  4. 4

    DMAIC project tracking bi-weekly (Green Belt)

    Minggu 3โ€“13

    Setiap dua minggu, 90 menit, peserta presentasi progress DMAIC project. Coach Neksus mereview Define-Measure-Analyze-Improve-Control phase. Toolkit: SIPOC, value stream map, Ishikawa, FMEA, control plan.

  5. 5

    Workshop tematik bulanan (3 jam live)

    Minggu 4โ€“12

    Topik bergulir: Autonomous Maintenance 4-step Implementation, SMED Deep Dive, JSA & HIRADC Practical, Behavior-Based Safety, Daily Management Board Design, OEE Communication for Executives. Setiap sesi dengan praktik 2 minggu.

  6. 6

    Mid-program check-in dengan COO / Direktur Operasi

    Minggu 7

    Sesi 90 menit antara coach Neksus, plant manager, dan COO. Review OEE trend, status DMAIC project, gap kepatuhan SMK3, dukungan organisasi.

  7. 7

    Capstone, DMAIC project presentation + audit readiness

    Minggu 13โ€“14

    Setiap peserta presentasi DMAIC project Green Belt: financial benefit terukur, control plan, sustaining mechanism. Plant manager presentasi audit readiness PP 50/2012 + ISO 45001:2018. Audiens: COO + direksi + Disnaker observer (opsional).

  8. 8

    Sustaining: alumni operasional + quarterly TPM review

    Bulan 4 โ†’ 12

    Akses ke alumni channel untuk peer-coaching plant manager lintas-perusahaan, plus review triwulanan 90 menit dengan coach Neksus untuk membahas project Black Belt lanjutan.

Pemangku Keputusan

Pemangku keputusan dalam program plant manager

Lima rangkaian stakeholder yang harus selaras sebelum program berdampak ke lantai produksi.

Chief Operating Officer / Direktur Operasi
Sponsor utama

Akuntabilitas OEE, biaya produksi, dan delivery ke CEO/board.

Head of Manufacturing / Plant Director
Co-owner program

Konsistensi disiplin operasi lintas-pabrik; TPM roadmap multi-tahun.

Head of Maintenance / Engineering
Co-design TPM

Integrasi autonomous maintenance dengan planned maintenance; MTBF/MTTR data.

Head of Quality / QA
Validator project

Dampak DMAIC project ke FPY, defect rate, control plan post-improvement.

EHS Manager / Safety Officer
Co-design safety modules

Kepatuhan PP 50/2012 SMK3, ISO 45001:2018, Permenaker 5/2018; LTI Frequency Rate.

HR / Training Manager
Owner program

Manajemen logistik program, evaluasi Kirkpatrick, integrasi LMS dan competency development.

Catatan Desain Program

Catatan desain, mengapa kami merancang seperti ini

  • Format hybrid (workshop + on-shift coaching)
    40% workshop live, 40% gemba walk + on-shift coaching, 20% DMAIC project tracking
    Disiplin pabrik tumbuh di shop floor, dengan teori sebagai fondasi. Coaching at gemba adalah satu-satunya cara membuat OEE board terisi konsisten.
  • Ukuran cohort
    10โ€“18 peserta per cohort (plant manager + supervisor produksi + shift leader + maintenance lead)
    Mix peran memastikan TPM autonomous + planned maintenance terhubung; safety dipahami sebagai shared responsibility.
  • Durasi total
    10โ€“14 minggu
    Cukup untuk satu siklus DMAIC project Green Belt penuh (Define hingga Control), audit gap closure, dan adopsi gemba walk discipline.
  • Fasilitator
    Fasilitator dengan minimum 15 tahun pengalaman operasi pabrik + kredensial Lean Six Sigma Black Belt + Ahli K3 Umum / ISO 45001 Lead Auditor
    Plant manager hanya menghormati fasilitator yang pernah memimpin shift / pabrik. Kredensial K3 memberi otoritas keselamatan.
  • Capstone DMAIC project (Green Belt)
    Setiap peserta menyelesaikan satu DMAIC project di problem nyata dengan financial benefit โ‰ฅRp 100 juta annual
    DMAIC menjadi habit ketika dipraktikkan end-to-end. Project dengan financial benefit konkret memvalidasi ROI program ke direksi.
  • Pengukuran efektivitas
    Kirkpatrick L1โ€“L4 + business outcomes: OEE, setup time, MTBF, LTI Frequency Rate, FPY, financial benefit DMAIC project
    OEE dan LTI adalah lagging indicator pabrik yang paling dipercaya direksi. Quarterly review dengan COO memastikan dampak terdokumentasi.
Pola Hasil Tipikal

Pola hasil tipikal dari klien serupa

Konteks

Pabrik FMCG dengan 5 lini packaging, OEE baseline 56%, LTI Frequency Rate 4.2 per juta jam kerja.

Intervensi

Cohort 12 minggu untuk 14 supervisor + 3 plant manager. DMAIC project per peserta. Implementasi 5S + autonomous maintenance 4-step + SMED di lini bottleneck. Audit gap analysis PP 50/2012 paralel.

Hasil indikatif

OEE naik dari 56% ke 71% dalam 7 bulan. Setup time lini SKU multi turun dari 3.5 jam ke 55 menit (SMED). LTI Frequency Rate turun ke 1.1. Financial benefit kumulatif DMAIC project ~Rp 2.8 miliar annual.

Konteks

Pabrik otomotif Tier-2 dengan target audit TPM JIPM Excellent Award, baseline OEE 64%, kultur autonomous belum ada.

Intervensi

Cohort 14 minggu fokus TPM 8 pilar. Coaching dengan visit ke pabrik benchmark yang sudah memenangkan TPM Award. Sustain dengan monthly TPM steering committee.

Hasil indikatif

OEE naik ke 79% dalam 9 bulan. Autonomous maintenance 4-step selesai di 8 dari 12 lini. Pabrik berhasil meraih TPM Excellent Award 18 bulan setelah program.

Konteks

Pabrik kimia menengah dengan riwayat 2 LTI dalam 18 bulan + 1 near-fatality, audit Permenaker dengan 28 item gap.

Intervensi

Cohort 10 minggu fokus implementasi ISO 45001:2018 + behavior-based safety. JSA terupdate untuk 47 task berisiko. Safety observation card harian dengan target 10 observasi per supervisor per minggu.

Hasil indikatif

Zero LTI dalam 12 bulan pasca-program. Audit Permenaker berikutnya gap turun ke 4 item. Sertifikasi ISO 45001:2018 diperoleh dalam 14 bulan.

Informasi Procurement

Informasi procurement

  • Format kontrak
    Inhouse cohort tetap (10โ€“14 minggu), program berkelanjutan multi-cohort tahunan (untuk multi-pabrik), atau embedded consultant lean (12 bulan dengan 6โ€“8 kunjungan per bulan).
  • Lokasi
    Onsite di pabrik klien (Jabodetabek tanpa biaya transport tambahan), regional onsite (Bekasi, Karawang, Surabaya, Cilegon, dll), hybrid (kickoff onsite + sesi mingguan online), atau full online untuk pabrik di area terpencil.
  • Bahasa pengantar
    Bahasa Indonesia (default) atau bilingual ID/EN untuk korporat multinasional dengan expat engineer.
  • Materi & sertifikat peserta
    Modul, workbook DMAIC Green Belt, template 5S audit, SMED checklist, JSA template, akses 12 bulan ke alumni resource hub, sertifikat partisipasi Neksus + opsi sertifikasi Lean Six Sigma Green Belt.
  • Dokumentasi pajak & e-procurement
    Faktur pajak PPN, kwitansi, BAST. Dukungan e-procurement BUMN/pemerintah (SPSE LKPP) tersedia.
  • Termin pembayaran
    DP 30% saat kontrak, milestone 40% pasca-kickoff, pelunasan 30% pasca-capstone DMAIC presentation.
  • Pendampingan opsional
    Audit kesiapan TPM JIPM Award oleh tim Neksus, audit gap analysis PP 50/2012 + ISO 45001:2018 sebelum audit eksternal, dan sertifikasi Lean Six Sigma Black Belt untuk peserta high-potential.

Pertanyaan Umum

Diskusikan transformasi pabrik Anda

Kirim profil pabrik (jumlah lini, OEE baseline, riwayat LTI 12 bulan, status sertifikasi SMK3 + ISO 45001), industri (FMCG, otomotif, kimia, dll), dan target start cohort. Tim Neksus melakukan audit operasional 5 hari onsite dan menyiapkan rancangan program + audit gap analysis dalam 3 hari kerja pasca-audit.

  • Cohort 10โ€“14 minggu dengan gemba walk mingguan dan DMAIC project Green Belt capstone
  • Audit gap analysis PP 50/2012 SMK3 + ISO 45001:2018 termasuk dalam paket
  • On-shift coaching menyentuh shift malam dan akhir pekan
  • Modul TPM 8 pilar JIPM dengan visit ke pabrik benchmark yang sudah meraih TPM Award
  • Pengukuran Kirkpatrick L1โ€“L4 + financial benefit terukur DMAIC project untuk justifikasi ROI
  • Sertifikasi Lean Six Sigma Green Belt opsional sebagai jalur sertifikasi industri
Kontak PIC (HR / L&D / Procurement)
Perusahaan
Kebutuhan Pelatihan