Topik yang sama, latihan yang berbeda menurut jabatan
Dua orang bisa sama-sama mendaftar kelas kepemimpinan, lalu pulang dengan bekal yang sama sekali lain, karena minggu kerja mereka memang lain.
Ambil contoh seorang supervisor gudang yang baru tiga bulan memegang tim. Kesulitannya sangat dekat: kemarin ia masih makan siang bersama orang-orang yang sekarang harus ia tegur kalau datang terlambat. Latihan yang ia perlukan adalah kalimat pembuka untuk percakapan itu, cara menahan diri supaya tidak mengerjakan sendiri pekerjaan anak buahnya, dan cara membagi tugas tanpa terdengar memerintah teman.
Seorang direktur yang juga ingin belajar kepemimpinan berdiri di tempat yang jauh berbeda. Ia jarang menegur orang secara langsung, sebab yang ia pimpin adalah para kepala divisi yang masing-masing punya kepentingan. Yang ia latih adalah cara mengambil keputusan saat datanya belum lengkap, cara menyelaraskan sesama direktur, dan cara menyampaikan arah perusahaan supaya terdengar sama sampai ke lantai bawah.
Judul kelasnya boleh sama. Latihannya, contoh kasusnya, lama sesinya, bahkan cara trainer berbicara di depan kelas, semuanya disusun dari pekerjaan sehari-hari peserta. Itulah alasan halaman ini mengelompokkan pelatihan menurut peran: pembeli bisa mulai dari orang yang hendak dikembangkan, lalu kami menyusun topik dan bentuknya dari situ.
Cara berpikir ini juga menolong saat anggaran terbatas. Kalau masalahnya jelas melekat pada satu peran, misalnya kepala toko yang kewalahan mengatur jadwal sif, uangnya lebih tepat dipakai untuk kelas pendek yang menjawab persis masalah itu. Kelas umum yang diikuti semua orang sering terasa menyenangkan di hari itu, lalu cepat terlupa karena tidak menyentuh pekerjaan siapa pun secara khusus.